Mensos: Pasca-Lebaran Jadi Momentum Perkuat Disiplin dan Pelayanan Publik
SOALRAKYAT.COM, JAKARTA - Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa masa setelah libur Idulfitri 1447 Hijriah harus menjadi momentum bagi seluruh jajaran Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk kembali bekerja dengan semangat baru, disiplin tinggi, serta fokus pada pelayanan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, dalam Rapat Pimpinan (Rapim) yang digelar secara hybrid di kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026). Rapat tersebut diikuti para pimpinan direktorat di lingkungan Kemensos.
“Pasca-Lebaran ini harus menjadi awal percepatan kerja yang lebih disiplin, lebih bersih, dan lebih berdampak. Semua program, data, pengawasan, dan layanan harus bermuara pada satu tujuan, yakni melindungi, menguatkan, dan memuliakan masyarakat,” kata Gus Ipul.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada ego sektoral di lingkungan Kemensos. Menurutnya, seluruh unit kerja harus bergerak dalam satu irama untuk mendukung program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Satu orkestrasi yang terhubung satu dengan yang lain. Para direktur harus sering berkoordinasi, tidak hanya secara formal, tetapi benar-benar duduk bersama mencari solusi dan mengintegrasikan program agar berdampak nyata di masyarakat,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, Gus Ipul juga menyoroti sejumlah agenda strategis yang harus segera dipercepat, salah satunya koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum terkait pembangunan 104 Sekolah Rakyat permanen. Ia meminta daerah yang belum memiliki gedung sekolah permanen menyiapkan solusi sementara yang layak, aman, dan berkualitas dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Selain itu, ia meminta percepatan evaluasi pemerataan sumber daya manusia di Sekolah Rakyat, mulai dari guru, wali asrama, tenaga administrasi, hingga tenaga pendukung lainnya.
Gus Ipul juga menekankan pentingnya penguatan layanan rehabilitasi sosial bagi kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, anak, serta korban penyalahgunaan narkotika. Menurutnya, layanan tersebut harus dilakukan dengan pendekatan yang manusiawi, berbasis keluarga, dan berbasis komunitas.
Ia juga menegaskan bahwa sentra-sentra Kemensos di berbagai provinsi harus menjadi ujung tombak pelayanan sosial. Sentra tidak hanya berfungsi sebagai tempat layanan administratif, tetapi harus menjadi pusat layanan terpadu yang aktif, responsif, dan solutif.
“Sentra harus menjadi simpul yang menghubungkan perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan, dan pelayanan kedaruratan. Pelayanan harus terukur dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan sentra juga harus berubah dari pola pasif menjadi aktif dengan pendekatan jemput bola dalam menangani persoalan sosial di wilayah kerja masing-masing.
Di sektor perlindungan dan jaminan sosial, Gus Ipul menekankan bahwa penyaluran bantuan sosial (bansos) harus semakin tepat sasaran, tepat waktu, transparan, dan mudah diakses masyarakat. Ia juga meminta setiap aduan masyarakat dapat ditangani dengan cepat dan solutif.
Program pemberdayaan sosial juga harus diperkuat agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan sosial, melainkan mampu menuju kemandirian melalui program graduasi penerima manfaat.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar penyaluran bansos. Menurutnya, seluruh kebijakan harus berbasis data yang akurat, bukan asumsi.
Terakhir, Gus Ipul menekankan penguatan peran Inspektorat Jenderal dalam melakukan pengawasan sejak awal agar program-program Kemensos berjalan sesuai aturan, tepat sasaran, dan minim risiko.
“Pengawasan harus lebih dini, lebih cermat, dan menyentuh titik-titik rawan pelaksanaan program, terutama yang berkaitan dengan bansos, pengelolaan sentra, Sekolah Rakyat, dan pemanfaatan anggaran,” pungkasnya.
.jpg)