Minim Paparan Visi Misi, Hasil TKKT Tala 2026 Menuai Keprihatinan Pemuda
SOALRAKYAT.COM, PELEHARI- Pelaksanaan Temu Karya Karang Taruna (TKKT) Tanah Laut di Aula Dinas Sosial Tanah Laut, Senin (16/02/2026), menuai perhatian serius dari kalangan pemuda.
Agenda pemilihan Ketua Karang Taruna periode 2026–2031 tersebut dinilai berlangsung terlalu singkat dan kurang menghadirkan pertarungan ide antar kandidat.
Salah satu poin yang paling disorot adalah sesi penyampaian visi dan misi. Dari sejumlah calon yang maju, hanya satu kandidat yang memaparkan gagasan secara sistematis.
Sementara kandidat lainnya dinilai tidak menjelaskan arah organisasi maupun program kerja secara utuh di hadapan forum.
Dalam sesi perkenalan, salah satu kandidat menyampaikan pernyataan singkat terkait visi misi yang dianggap “kurang lebih sama” dengan peserta lain. Potongan video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu berbagai tanggapan.
Sejumlah peserta menilai pernyataan tersebut mencerminkan minimnya kesiapan dalam merumuskan arah organisasi lima tahun ke depan.
Ironisnya, kandidat yang tidak menyampaikan visi dan misi secara jelas justru terpilih sebagai ketua. Kondisi ini dipandang sebagian anggota sebagai kemunduran kualitas demokrasi internal Karang Taruna.
Situasi tersebut juga disebut sebagai peringatan serius bagi proses kaderisasi. Kekhawatiran muncul bahwa kepemimpinan yang lahir tanpa fondasi gagasan berpotensi berjalan tanpa arah dan sulit menjawab persoalan kepemudaan di tingkat kecamatan hingga desa.
Muhammad Reza, pemuda Kecamatan Pelaihari sekaligus Anggota Bidang Organisasi dan Kaderisasi Karang Taruna Pelaihari, menilai dinamika ini menunjukkan krisis arah serta lemahnya regulasi kaderisasi.
“TKKT seharusnya menjadi wadah adu gagasan sekaligus uji kapasitas calon pemimpin. Jika visi misi tidak menjadi pertimbangan utama, maka kepemimpinan yang lahir berisiko kehilangan arah,” ujarnya.
Menurut Reza, Karang Taruna memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan pemimpin masa depan sekaligus jembatan aspirasi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Ketika substansi diabaikan, maka marwah kepemudaan ikut dipertaruhkan,” pungkasnya.(rz)
