Kalsel Kreatif Forum Dorong Wujudkan Ekonomi Hijau melalui Teknologi Sederhana di SMA

 




SOALRAKYAT.COM, BANJARMASIN– Persoalan lingkungan di sekitar sekolah ternyata bisa menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. 

Sampah, penggunaan energi, pengelolaan air hingga barang bekas tidak lagi dipandang sebatas masalah, tetapi dapat diolah menjadi gagasan yang memiliki manfaat bahkan nilai ekonomi.

Semangat tersebut menjadi salah satu fokus dalam workshop “Mewujudkan Ekonomi Hijau melalui Penerapan Teknologi Sederhana di Sekolah Menengah Atas” yang digelar Komunitas Kalsel Kreatif Forum bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kalimantan Selatan di Aula SMAN 2 Banjarmasin, Selasa (8/9/2026).

Mengangkat tema “Mewujudkan Ekonomi Hijau dengan Penerapan Design Thinking untuk Inovasi Teknologi Sederhana Tingkat Sekolah Menengah Atas”, kegiatan ini dirancang bukan sekadar menjadi ruang penyampaian materi.

Para pelajar justru diajak aktif menemukan persoalan yang ada di lingkungan mereka, membedah penyebabnya, bertukar gagasan dan mulai merancang solusi yang memungkinkan diterapkan menggunakan teknologi sederhana.

Enam sekolah dari berbagai wilayah di Kalimantan Selatan turut ambil bagian. Peserta dibagi dalam kelompok dan diberikan kesempatan mengangkat persoalan yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Pelaksana, Donny Kurniawan, mengatakan pola workshop sengaja dibuat interaktif agar siswa tidak hanya menerima materi secara pasif.

“Peserta tidak hanya mendengarkan materi dari narasumber, tetapi juga berpikir dan berdiskusi mencari solusi dari permasalahan yang ada di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Menurut Donny, kemampuan mengenali masalah sekaligus mencari solusi menjadi keterampilan penting bagi generasi muda. Sebab, persoalan di sekitar tidak selalu membutuhkan teknologi canggih untuk diselesaikan.

Justru, dari persoalan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa dapat belajar merancang inovasi sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.

“Dari hasil diskusi kelompok, nantinya bakal muncul ide-ide solusi untuk bisa diimplementasikan di sekolah masing-masing melalui teknologi sederhana yang dibuat dan dapat bermanfaat,” jelasnya.

Ketua Kalsel Kreatif Forum, Farid Fathurrahman, ST., MME., mengatakan isu sampah menjadi salah satu contoh persoalan yang dapat didekati melalui konsep ekonomi hijau.

Menurutnya, tingginya aktivitas masyarakat, khususnya di kawasan perkotaan, membuat persoalan sampah membutuhkan cara pandang baru.

Tidak cukup hanya memikirkan bagaimana membuang sampah, tetapi juga bagaimana mengurangi, mengolah dan memberikan nilai tambah terhadap barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

“Konsep teknologi sederhana berbasis ekonomi hijau ini bisa kita arahkan untuk menjawab permasalahan yang ada di sekitar, misalnya persoalan sampah di Kota Banjarmasin,” kata Farid.

Ia menilai barang bekas sebenarnya masih memiliki potensi apabila mendapatkan sentuhan kreativitas.

“Sampah bukan hanya barang yang tidak berguna. Bagaimana barang bekas itu bisa kita manfaatkan kembali menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai ekonomis,” tuturnya.

Cara pandang tersebut menjadi bagian penting yang ingin ditanamkan kepada para pelajar. Mereka tidak hanya diajak menciptakan produk yang ramah lingkungan, tetapi juga memahami bahwa inovasi dapat membuka peluang ekonomi.

Dengan begitu, ekonomi hijau tidak berhenti pada upaya menjaga lingkungan, melainkan juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menghasilkan karya produktif.

Untuk membantu siswa mengembangkan gagasan, workshop menggunakan pendekatan design thinking.

Metode tersebut dimulai dari memahami persoalan dan kebutuhan melalui tahap empathize, kemudian merumuskan masalah pada tahap define.

 Setelah itu peserta masuk ke tahap ideate untuk menghasilkan gagasan, dilanjutkan dengan membuat rancangan awal melalui prototype, kemudian mengujinya pada tahap test.

Farid menjelaskan, pendekatan tersebut diperkenalkan agar siswa memiliki pola berpikir sistematis ketika berhadapan dengan sebuah persoalan.

“Design thinking sebenarnya merupakan konsep lama. Kita kembali memperkenalkannya kepada para siswa agar mereka mempunyai cara berpikir dalam mencari solusi,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan bahwa lahirnya sebuah teknologi sederhana tidak dapat dipaksakan selesai hanya dalam satu hari.

Workshop sehari tersebut lebih difungsikan sebagai pemantik agar siswa memperoleh pengalaman awal dalam menemukan masalah dan mengembangkan ide.

“Sebenarnya konsep ini tidak cukup satu hari. Bisa seminggu sampai akhirnya menjadi teknologi sederhananya,” ungkap Farid.

Karena itu, ide yang muncul selama kegiatan diharapkan tidak berhenti ketika workshop selesai. Masing-masing sekolah didorong untuk melanjutkan proses tersebut dengan mengembangkan prototipe sesuai kebutuhan mereka.

Fasilitator workshop, Dr. Sri Hidayah, S.Pd., M.Sc., menilai generasi muda memiliki modal besar untuk menjadi bagian dari solusi atas persoalan lingkungan.

Menurutnya, masa muda merupakan periode penting untuk mengembangkan kreativitas, produktivitas dan kemampuan berpikir kritis. Potensi tersebut perlu diberikan ruang agar tidak berhenti hanya sebagai gagasan.

“Usia pemuda bisa produktif dan berpikir kritis terhadap perubahan iklim maupun isu-isu hijau. Ide-ide mereka jangan sampai terbuang begitu saja, tetapi kita petakan bersama,” katanya.

Ia menambahkan, proses belajar juga tidak harus selalu berlangsung dengan suasana formal dan kaku.

Dalam workshop tersebut, siswa diberi kesempatan berdiskusi, menyampaikan pendapat, bekerja dalam kelompok hingga berkompetisi secara sehat.

“Selain produktif, tetapi juga fun. Dari kegiatan ini kita berharap ada ide-ide produktif yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Menurut Sri, suasana yang menyenangkan justru dapat membuat siswa lebih berani mengeluarkan gagasan. Dari gagasan sederhana itulah kemudian dapat muncul inovasi yang lebih besar.

Menariknya, program ini tidak berhenti pada kegiatan sehari. Kalsel Kreatif Forum menyiapkan tahapan lanjutan agar ide yang muncul dapat dibawa ke sekolah masing-masing.

Para peserta didorong mengembangkan gagasan menjadi prototipe maupun teknologi sederhana yang benar-benar dapat diuji dan dimanfaatkan.

Untuk memperkuat motivasi peserta, juga disiapkan kompetisi inovasi dengan sejumlah kategori penghargaan, mulai dari juara pertama, kedua, ketiga hingga juara harapan.

“Dari kegiatan ini nantinya bakal diimplementasikan di sekolah. Kita juga ada kompetisi, ada juara inovasi satu, dua, tiga hingga juara harapan,” jelas Farid.

Kompetisi tersebut diharapkan menjadi pemacu agar siswa tidak berhenti pada tahap menemukan ide, tetapi berani mengubah gagasan menjadi karya nyata.

Pada akhirnya, workshop ini ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu identik dengan teknologi mahal dan rumit.

Lingkungan sekolah sendiri menyimpan banyak persoalan yang dapat menjadi bahan pembelajaran. Sampah, air, energi maupun barang bekas dapat menjadi titik awal bagi siswa untuk menemukan solusi baru.

Melalui design thinking, para pelajar diarahkan untuk mengubah cara melihat persoalan: bukan hanya bertanya apa masalahnya, tetapi juga mencari peluang apa yang dapat diciptakan dari masalah tersebut.

Dari enam sekolah yang mengikuti kegiatan, diharapkan muncul berbagai inovasi sederhana yang dapat dikembangkan dan diterapkan di lingkungan sekolah.

Lebih jauh, program ini menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya generasi muda Kalimantan Selatan yang kreatif, produktif, kritis dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Sebab, ekonomi hijau tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia bisa dimulai dari ruang kelas, halaman sekolah, tempat sampah, barang bekas, atau persoalan sederhana yang selama ini luput diperhatikan.

Dari sana, sebuah ide bisa tumbuh menjadi karya. Dan dari karya tersebut, bukan tidak mungkin lahir inovasi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.

(nanang)

NASIONAL

EKONOMI BISNIS